Koki Cilik yang Bikin Heboh

Standar

HARI Rabu (25/4/2012) siang, pukul 14.30 WIB, kantor saya heboh. Beberapa kawan di kantor tertawa-tawa di depan pesawat televisi yang menayangkan acara Koki Cilik dari Trans7.  Apa istimewanya tayangan tersebut sehingga menyedot perhatian kawan-kawan saya di kantor, antara lain di bagian redaksi dan layout?

Tayangan tersebut istimewa karena berkisah tentang Rachquel, host Koki Cilik, yang menikmati makanan di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies. pada 6 April 2012. Selain menyantap menu andalan warung makan istri saya, Selat Solo, Rachquel juga menyaksikan cara meracik makanan khas Solo itu.

Kawan-kawan saya tertawa setiap kali menyaksikan istri saya muncul dalam tayangan tersebut. Mereka tertawa sambil memandang ke arah saya, yang duduk di atas kursi, tepat di depan pesawat televisi kantor. Sesekali, sebagian di antara mereka pun meledek saya. “Wah, lihat tuh, istrinya  Pak Jun masuk televisi.”

Mereka tahu, bukan baru kali pertama istri saya sebagai pemilik Warung Selat Mbak Lies masuk tayangan televisi, namun tetap saja mereka menggoda saya. Sebagaimana pernah saya tuliskan di blog ini, warung kami, yang berlokasi di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah, itu berkali- kali dipakai syuting awak televisi dari berbagai stasiun televisi swasta.  (*)

Iklan

Debby, dari Lombok ke Solo demi Selat Mbak Lies

Standar

WAJAH artis peran lawas, Debby Cynthia Dewi, masih tampak manis pada usianya yang 60 tahun. Ia juga masih sibuk ikut syuting untuk sinteron berjudul Asmara dan Cinta, yang pengambilan gambarnya antara lain dilakukan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di sela kesibukannya tersebut, artis kelahiran Jakarta, 4 Agustus 1952, ini menyempatkan diri travelling dari Jakarta ke Kota Yogyakarta, dan Kota Solo, Jawa Tengah. Ia pun mengunjungi beberapa tempat wisata dan tempat-tempat kuliner, termasuk warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies.

“Kemarin (Jumat, 23/3, Red) saya ke Yogyakarta, hari ini jalan-jalan di Solo,” kata Debby kepada saya,  seusai makan di Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42, Solo, Sabtu (24/3/2012) siang.

Selama bepergian ke beberapa tempat wisata dan tempat-tempat kuliner, Debby ditemani sejumlah kawannya, termasuk keluarga fotografer kenamaan, Darwis Triadi, yang tinggal di kawasan Kerten, Laweyan, Solo. Saat ke Warung Selat Mbak Lies, Debby, yang mengenakan kaos motif lorek-lorek dipadu celana jeans, bersama rombongannya naik minibus pribadi.

“Ini jalan-jalan dengan kawan-kawan. Mumpung belum masuk masa syuting lagi. Barusan kami syuting di Lombok,” ujar Debby, yang melambung lewat film Tiada Jalan Lain pada 1972, bermain dengan aktor terkenal dari Taiwan, Teng Kuang Yung, yang sangat populer di era itu.

Sambil berjalan ke minibus yang akan membawanya meninggalkan Warung Selat Mbak Lies, Debby memuji kelezatan Selat Solo hasil racikan Wulandari Kusmadyaningrum alias Mbak Lies, istri saya.  “Rasanya enak, lezat.  Pertahankan kelezatannya, ya,”  pesan Debby.  (*)

* Bisa Baca juga di Tribunjogja.com

Satu Halaman di Kompas Minggu

Standar

HARI Minggu (19/2/2012) sekitar pukul 06.00 WIB, BlackBerry saya berbunyi, tanda ada e-mail masuk. Ternyata dari seorang saudara seiman yang tinggal di Surabaya, Jawa Timur, yang mengabarkan tentang kegiatan rohani sekaligus memberitahu ada artikel tentang warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, di Kompas Minggu.

Tak menunggu lama, saya pun keluar rumah membeli Kompas Minggu edisi 19 Februari 2012. Ternyata benar, halaman 16 koran tersebut memuat reportase, hampir satu halaman penuh, tentang warung istri saya, yang berlokasi di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah.

Saya tunjukkan tulisan tersebut  ke istri saya. Saya sendiri hanya sempat membaca sekilas, karena setelah itu saya segera pergi ke Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa, di dekat Terminal Bus Tirtonadi, untuk beribadat pukul 08.00 WIB.

Pulang ibadat, dua jam kemudian, saya buka grup BlackBerry. Ternyata sudah gaduh oleh kiriman BlackBerry Messenger (BBM) beberapa kawan, mengabarkan tentang tulisan mengenai Warung Selat Mbak Lies di Kompas Minggu.  Mungkin mereka menduga saya belum membaca naskah tersebut, atau bahkan mengira saya masih tidur….

Sesugguhnya masuk media massa, baik cetak maupun televisi, bukan hal baru bagi warung makan istri saya. Berbagai stasiun televisi pernah menayangkan Warung Selat Mbak Lies. Koran lokal dan regional pun beberapa kali memuat tulisan mengenai Warung Selat Mbak Lies. Tetapi mungkin karena jangkauan Kompas yang lebih luas, maka kawan-kawan saya di luar kota, termasuk Surabaya dan Jakarta, pagi-pagi sudah gaduh di BlackBerry.

Kini Pakai Folding Gate Warna-warni

Standar

PINTU depan warung istri saya, Warung Selat Mbak Lies, kini tak lagi memakai pintu dan pagar besi “konvensional”.  Sejak sekitar sebulan lalu, pintu lama diganti folding gate. Otomatis, pagar besi pun ikut diganti.

Folding gate ini dicat warna-warni ngejreng. Merah, hijau, dan kuning. Warna-warni pilihan istri saya, yang sangat peduli untuk merawat dan menghias warung makannya yang menyatu dengan rumah kami, di Serengan Gang II/42 Solo, Jawa Tengah, telepon 0271-65332.

Maka, jika Anda pelanggan Warung Selat Mbak Lies, Anda bisa menyaksikan perubahan itu. Tentu seraya menyantap menu yang disediakan, apakah Selat-Solo, gado-gado, timlo, atau yang lainnya.  (*)

Silakan Mencuci Tangan di Sini

Standar

BEBERAPA tempat  cuci tangan terbuat dari keramik  dipasang di bagian depan Warung Selat Mbak Lies, di Kampung Serengan Gang II/42 Telepon 0271-653332, Kota Solo, Jawa tengah.  Lengkap dengan ciduk berupa siwur. Pemasangnya, siapa lagi kalau bukan istri saya, sang pemilik warung, yang senang menghias warungnya dengan berbagai pernak-pernik.

Silakan mencuci tangan di tempat ini, sebelum Anda menyantap menu selat-Solo, atau menu lain semisal gado-gado dan sop ayam, atau es teler dan es buah serta jus alpukat atau jus yang lain. Tetapi kalau Anda pilih langsung menyantap makanan, setelah menu yang Anda pesan datang, silakan saja.

Ini Kali Ersamayori Aurora Yatim …

Standar

SAYA searching melalui mesin pencari di internet, dan baru saya tahu bahwa nama lengkap Ersa Mayori adalah Ersamayori Aurora Yatim (32). Perempuan kelahiran Jakarta, 14 Mei 1979, ini adalah model, presenter, dan bintang sinetron yang memulai kariernya dari pemilihan Gadis  Sampul. Adapun  acara yang terkenal yang dibawakannya adalah !nsert, program infotaintment di Trans TV.

Artis cantik berambut panjang itu muncul di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42 Telepon 0271-65332, Solo, Jawa Tengah, 5 November 2011 lalu. Tak beda dengan saat-saat sebelumnya tatkala ada sosok terkenal datang ke warung, saya sedang berada di luar kota, yaitu di Yogyakarta, untuk bekerja.

Tak apa. Toh saya bisa memperoleh cerita tentang kedatangan Ersa dari mulut istri saya. Juga, bisa mendapatkan foto-fotonya untuk dipasang di blog ini. Istri saya menggambarkan figur Ersa sebagai artis cantik yang ramah nan banyak senyum.

Ibu dua anak hasil pernikahannya dengan Otto Satria Jauhari, putra bankir Dicky Iskandar Dinata, itu  tak keberatan diminta tanda tangan pada piring hias di Warung Selat Mbak Lies. ia juga senang hati diajak berfoto bersama istri saya maupun beberapa pekerja warung istri saya.

Sepanjang catatan saya, Ersa menjadi figur populer ke sekian yang makan di warung istri saya, yang bernama lengkap Wulandari Kusmadyaningrum itu. Figur-figur lain telah pernah saya tuliskan di blog saya, sejak beberapa tahun lalu. Tentu bukan maksud saya dan istri mengistimewakan sosok semisal Ersa tetapi memang fakta bahwa name make a news. Apa boleh bikin….

Hiasan Warung Terus Bertambah

Standar

HIASAN di Warung Selat Mbak Lies terus bertambah. Tak heran, karena istri saya, sang pemilik warung,  memang senang menghias warungnya dengan berbagai benda yang menurutnya menarik.

Wulandari Kusmadyaningrum, nama istri saya, yang akrab dipanggil Lilies, atau Mbak Lies, tahu saja di tempat mana ia bisa menemukan hiasan-hiasan untuk warungnya, yang berlokasi di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah, Telepon 0271-653332.  Ia pun tak segan mengeluarkan biaya tidak sedikit demi memperoleh hiasan yang ia anggap menarik.

Dahulu kadang-kadang ia saya temani mencari hiasan-hiasan warung sampai ke Jakarta, Surabaya, atau “hanya” ke Yogyakarta. Tetapi sudah cukup lama, sekitar setengah tahun, kami tak membeli pernak-pernik hiasan ke luar Kota Solo. Meski demikian, hiasan di Warung Selat Mbak Lies terus bertambah. Itu karena istri saya memang tahu saja di tempat mana ia bisa menemukan hiasan- hiasan untuk warungnya….