Arsip untuk kategori ‘Lain-lain’
Pong Harjatmo Nikmati Selat Saat Hujan Gerimis
SEROMBONGAN pembeli yang datang ke warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, Selasa (7/12/2010) sore, menarik perhatian para pembeli lain maupun pekerja-pekerja warung. Maklum, salah satu orang dalam rombongan itu adalah aktor lawas Pong Harjatmo.
(Nama Pong mencuat kembali setelah beraksi memanjat atap gedung kura-kura DPR dan mencoretinya dengan cat, bertuliskan Jujur, Adil dan Tegas, akhir Juli 2010 lalu. Sesudah aksi protesnya tersebut Pong pun bak menjadi aktivis.)
Pria berusia 68 tahun kelahiran Solo ini datang ke warung bersama beberapa kerabat Pura Mangkunegaran, termasuk Gusti Pangeran Haryo (GPH) Herwasto Kusumo, saat hujan gerimis. Herwasto adalah adik ‘raja’ Pura Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Mangkunegoro IX.
“Saya tidak asing dengan Mangkunegaran, karena waktu tinggal di Solo, dulu, rumah saya tak jauh dari Mangkunegaran. Di sebelah barat pura,” ucap Pong setelah makan di warung istri saya, di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah.
Catatan : Berita tentang Pong saat diwawancara di Warung Selat Mbak Lies ada di sini.
Gunung Kerupuk Memenuhi Rumah

ISTRI saya menyiapkan sangat banyak stok kerupuk menjelang warung makannya tutup selama Lebaran lalu. Saking banyaknya stok kerupuk tersebut, saya menyebutnya sebagai gunung kerupuk.
Tumpukan gunung kerupuk itu memenuhi salah satu ruangan di rumah kami. Tentu tak menyedapkan pemandangan dalam rumah, tetapi —apa boleh bikin— setiap kali menjelang Lebaran memang begitulah adanya….
Warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, memang libur panjang menjelang dan saat Lebaran. Penyebabnya, para pekerja di warung, yang sebagian berasal dari desa, mudik ke desa masing-masing, meninggalkan-sementara warung makan di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah, ini.
Lebaran tahun 2010 ini istri saya meliburkan warung makannya selama lima hari. Minggu (12/9/2010), atau sehari setelah Lebaran hari kedua, warung sudah buka seperti biasa.
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, setiap warung buka kembali setelah libur panjang Lebaran, para pembeli yang datang langsung berjubel. Maka, gunung kerupuk pun sedikit demi sedikit digerogoti, dan akhirnya habis, kemudian diganti stok baru agar tidak melempem.
Hari Masih Gelap, Warung pun Belum Buka
BEGINILAH suasana sekitar rumah kami, sekaligus warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, pada suatu pagi sekitar pukul 05.30 WIB. Rumah simbah di depan rumah kami, di selatan jalan, masih belum dibuka. Hal tersebut dapat dilihat dari krei bambu yang tertutup rapat itu.
Jalan kecil di depan rumah pun masih sepi. Hanya satu-dua orang lewat, baik berjalan kaki maupun naik sepeda motor. Sekitar lima jam kemudian jalan akan mulai ramai oleh para pembeli warung, baik yang datang naik sepeda motor maupun mobil. Puncak keramaian warung di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah, ini biasanya terjadi tengah hari, saat jam makan siang.
Ada Sedia “Sapu-Super”…

NAMANYA “sapu super”. Mengapa disebut “super”? Tentu pembuatnya yang lebih tahu. Tetapi, mudah ditebak, kata super ini memaksudkan pada sesuatu yang sangat baik, sangat kuat, atau luar biasa.
Namanya “sapu super”. Itulah sapu yang dijual istri saya sebagai dagangan tambahan di warung makannya, Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah.
Namanya “sapu super”. Istri saya kulakan sapu-sapu super tersebut dari seorang pedagang sapu, yang secara periodik mengantarkannya ke rumah sekaligus warung makan kami.
Namanya “sapu super”. Menurut istri saya, sapu-sapu nan super ini relatif laris. Sebagian di antara banyak pelanggan warung makan istri saya ternyata senang membeli sapu tersebut —termasuk beberapa pelanggan asal luar Kota Solo.
Namanya “sapu super”. Berapa harganya? Kalau masalah harga, silakan bertanya langsung kepada istri saya, atau para pekerjanya, di sela keasyikan Anda mengudap di Warung Selat MBak Lies….
Jumlah Pembeli Berkurang Tatkala Hujan. Tak Apa

HAMPIR setiap hari hujan deras turun di Kota Solo, Jawa Tengah. Demikian pula hari Minggu (25/4/2010) ini. Kalau sudah begitu, pengaruhnya jelas ke warung makan istri saya : jumlah pembeli berkurang.
Pada saat-saat tertentu, hujan memang seolah menjadi “musuh”. Misalnya, dia membuat banyak orang malas bepergian keluar rumah, termasuk untuk bepergian ke warung makan seperti Warung Selat Mbak Lies, demi mengudap selat-Solo atau menu yang lain.
Selain itu, mereka yang berada di dalam warung, yang sebenarnya telah selesai menikmati dan menyantap menu yang dipesan, pun malas untuk segera pergi. Tentu tidak nyaman terkena guyuran air hujan saat meninggalkan warung dalam kondisi hujan.
Terkecuali para pembeli bermobil, yang bisa leluasa pergi tanpa harus teles-kebes akibat air hujan. Adapun mereka yang naik sepeda motor pasti menunggu hujan reda.
Tetapi, untunglah, meski hampir setiap hari turun hujan belakangan ini, hujan tersebut tidak tercurah sepanjang hari, pagi sampai sore. Hujan yang terjadi hanya sepotong-potong, misalnya hari Senin hujan muncul pada siang hari, hari Selasa turun hujan saat sore, dan hari Jumat terjadi hujan kala pagi….
Dengan begitu, meski hampir setiap hari hujan deras turun di Kota Solo namun Warung Selat Mbak Lies tetap didatangi cukup banyak pelanggan, baik yang bersepedamotor maupun bermobil. Hujan, sebagai sebuah hasil karya Yehuwa (nama pribadi Allah), bukan musuh bagi warung kami, yang berlokasi di Kampung Serengan Gang II/42, Solo, ini.
Parkir Roda Dua di Halaman Rumah Tetangga
TEMPAT parkir mobil dan sepeda motor pernah menjadi persoalan bagi warung makan istri saya. Maklum, Warung Selat Mbak Lies ini terletak di dalam sebuah gang sempit di tengah kampung, yaitu Serengan Gang II/42, Solo, Jateng. Gang tersebut hanya bisa dilewati sebuah mobil berpapasan dengan sepeda motor. Padahal, rumah kami tak punya halaman luas.
Dulu, sepeda motor-sepeda motor para pelanggan warung diparkir di halaman depan rumah sekaligus warung kami yang sempit itu. Adapun mobil-mobil diparkir para pemiliknya di halaman rumah tetangga sebelah rumah kami, milik Pak Jasadi. Halaman rumah sederhana ini bisa menampung empat mobil dalam posisi berjejer rapat. Sebagian mobil lain diparkir di pinggir jalan besar di ujung gang, setelah itu para pemiliknya berjalan kaki sekitar 20 meter ke warung makan kami.
Dengan kondisi seperti itu maka pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu —hari-hari di mana para pembeli jauh lebih banyak dibanding hari-hari lain— parkir sering menjadi masalah ruwet. Apa boleh bikin.
Tetapi sejak sekitar enam bulan lalu persoalan parkir dapat teratasi. Halaman rumah Pak Jasadi, persis di sebelah barat rumah kami, itu akhirnya dikontrak seorang tetangga lain, yang kemudian memanfaatkannya untuk tempat parkir sepeda motor. Pengontrak tersebut memasang eyup-eyup alias pelindung terbuat dari atap seng agar sepeda motor-sepeda motor yang diparkir tidak kepanasan atau kehujanan.
Tak berselang lama setelah itu, pemilik rumah di depan rumah Pak Jasadi juga mengizinkan halamannya —yang relatif luas— untuk tempat parkir mobil. Bahkan pihak pemilik rumah itu akhirnya juga memasang eyup-eyup atap seng untuk melindungi mobil. O, ya, untuk parkir sepeda motor, pengelola parkir mengutip biaya Rp 1.000 per motor, sedangkan untuk mobil Rp 2.000.
Maka, jika siang hari, terutama pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, dua tempat parkir tersebut selalu penuh kendaraan bermotor. Para pembeli datang dan pergi, bergantian memarkir sepeda motor dan mobil mereka di dua tempat parkir yang disediakan. (Dalam foto di atas tak tampak banyak sepeda motor karena saya jepret pagi hari, satu jam setelah warung buka, saat warung relatif masih sepi).
Itulah sebuah simbiose mutualisme : dua tetangga memperoleh penghasilan tambahan dengan menyewakan halaman rumah masing-masing, dan beberapa tetangga lain mendapat penghasilan dengan menjadi tenaga pemarkir, sedangkan istri saya sebagai pemilik warung tak lagi dipusingkan oleh masalah parkir. Istri saya pun kemudian memanfaatkan halaman depan rumah kami untuk perluasan warung, dengan menaruh meja-meja dan kursi-kursi tambahan, plus sebuah air muncrat alias air mancur untuk membuat sejuk suasana saat siang hari.


